Sabtu, 18 April 2015

Tari Tor Tor Budaya Sumatera Utara



Tor Tor adalah tari yang identik dengan sekelompok orang yang berasal dari wanita Batak Toba. Gerakannya sangat periang serta sedikit monoton.Walau demikian, tari yang berasal dari Suku Batak di pulau Sumatera ini memiliki daya tarik tersendiri.Selain itu, tarian ini juga memiliki beberapa histori serta makna tersendiri terutama bagi masyarakat yang tinggal di Sumatera.

tari-tor-tor-budaya-sumatera-utara

Pada awalnya Tari Tor Tor hanya ditemukan pada masyarakat Suku Batak yang tinggal di Pulau Samosir. Setelah itu pada tahun 1973 Tari Tor Tor mulai dikembangkan dan banyak dikenal oleh masyarakat, tidak hanya di Sumatera melainkan juga di beberapa pulau di Indonesia.
Tarian ini adalah tarian yang sering ditampilkan pada upacara-upacara tertentu, terutama ketika terdapat kematian. Ada tiga jenis Tari Tor Tor yang banyak dikenal. Diantaranya, adalah:
·         Tari Tor Tor tunggal panaluan
·         Tari Tor Tor sipitu cawan, dan
·         Tari Tor Tor pangurason.
Setiap tari memiliki makna berbeda-beda.Misalnya Tari Tor Tor pangurason. Tari ini adalah tari pembersihan yang bisa tampilkan pada acara besar seperti pesta. Pembersihan tersebut bukan berarti pembersihan secara harafiah melainkan pembersihan menurut spritual. Biasanya lokasi akan dibersihkan dengan media jeruk purut. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan atau untuk menghindari musibah selama pesta berlangsung.
Pada saat ini Tari Tor Tor sudah menjadi salah satu warisan budaya yang menjadi ikon Pulau Sumatera terutama di masyarakat Batak.

Sejarah awal Tari Tor Tor
Menurut keterangan yang ada,Tari Tor Tor sudah ada sejak abad ke-13 di Sumatera Utara.Pada zaman dahulu, nenek moyang Suku Batak yang berasal dari Burma menggunakan Tari Tor Tor sebagai ritual yang menghubungkan antara dunia yang kita tempati dengan dunia roh.
Tari Tor Tor juga berkaitan dengan adat istiadat dalam menghormati sang penguasa alam, arwah para luhur. Dan saat ini sering digunakan untuk menyambut para tamu kehormatan.
Biasanya tarian ini juga dibawakan pada pesta biusyaitu ritual pengorbanan hewan, pesta sharing, sharing yaitu membersihkan tulang belulang, serta mangase taon yaitu pada pesta tahun baru.
Tarian ini memiliki kostum yang boleh dibilang cukup unik dan menarik.Warna merah lebih dominan ditemukan pada kostum Tari Tor Tor. Busana tersebut biasanya dibuat dari tenun asli orang batak yang disebut ulos. Sedangkan aksesoris tambahan seperti pernak-pernik hanya digunakan untuk memeriahkan penampilan sang penari.
Tari Tor Tor dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian, yang pertama yaitu gondang mula mula, kedua gandang dewata ketiga gerakan rampak dengan liukan pinggang serta kedipan mata dan gerakan jari tangan. Bagian keempat dan kelima merupakan tarian kisah yang dimaksudkan sebagai persembahan. Bagian keenam adalah Tor Tor Sitioti dan bagian terakhir atau ketujuh adalah bagian dimana penari memainkan Ulos sambil meneriakan kata “Horas..!!”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar